PINTU kamar itu biasa saja. Terbuat dari kayu, bercat putih biasa, dan terpasang engsel yang sederhana pula; tetapi… mengapa pintu itu begitu mengesankan? Bahkan berbau keagungan? Di sebelah sana pintu duduk… tetapi ah, itu bukan urusan kita.
Di sebelah sini berdiri dua orang yang sedang bertukar kata:
“Terimaksaih banyak!”
“Ini untuk Tuan, buat beli susu anak-anak. Untuk upah kerja keras Tuan, Maksim Ivanich. Tiga tahun kerja berlarut-larut, itu bukan lelucon…. Maaf, jumlahnya tak seberapa…. Cuma, saya minta diusahakanlah! (Berhenti). Ingin juga saya ini menyatakan terimakasih kepada Porfirii Semyonich…. Beliau itu penolong saya yang terpenting; kepada beliau itu urusan saya tergantung…. Kalau boleh memberikan tandamata… bolehlah dua-tiga ratus….”
“Untuk beliau… uang itu?! Apa pula Tuan ini! Cabut saja kata-kata itu! Porfirii Semyonich bukan orang macam itu, yang….”
“Apa tidak suka kiranya? Sayang sekali…. Padahal saya ini dari lubuk hati yang bersih, Maksim Ivanich…. Ini bukan semacam sogokan…. Ini tandamata yang diberikan dari lubuk hati yang tulus… untuk jerih payah yang luar biasa…. Saya toh bukan orang yang tanpa perasaan? Saya mengerti jerih-payah beliau itu…. Siapa sekarang ini yang sanggup menanggung beban seberat itu hanya dengan mengandalkan uang gaji? Hm…. Jadi begitulah…. Ini bukan sogokan, tetapi boleh dikatakan pemasukan yang sah….”
“Tidak, ini tidak mungkin! Beliau orang yang demikian baik… demikian baik!…”
“Saya kenal beliau itu, Maksim Ivanich! Beliau memang orang yang baik sekali! Hati beliau adalah hati emas, jiwanya adalah jiwa yang cinta sesama, jiwa humanis. Begitu halus… Kalau beliau memandang diri kita, isi hati kita pun seperti ditonjolkan. Siang dan malam saya berdoa untuk beliau…. Cuma urusan saya ini, begitu lama terhambat! Tetapi itu tidak apa-apa…. Dan di atas segala jerih-peyah itu ingin saya menyatakan terimakasih…. Kira-kira tiga ratus rubel….”
“Tidak akan diterima…. Beliau orangnya lain! Keras! Dan jangan Tuan coba-coba dengan beliau…. Beliau pekerja keras, penuh perhatian, malam hari tidak tidur, tetapi soal pernyataan terimakasih atau yang lain–tidak…. Begitu peraturannya. Dan lagi, apa arti uang Tuan bagi beliau? Beliau sendiri seorang jutawan!”
“Sayang sekali…. Padahal sebetulnya saya ingin mencurahkan perasaan saya kepada beliau! (Diam). Dan ingin rasanya perkara saya ini lekas selesai…. Tiga tahun sudah berjalan! Tiga tahun! (Keras): Tak tahulah saya, apa yang mesti saya lakukan…. Putus asa saya jadinya…. Tolonglah, Tuan! (Istirahat). Kalau tiga ratus saja saya dapat…. Ini betul…. Biar saat ini juga….”
“Hm…. Ya…. Bagaimana, ya? (Istirahat). Saya hanya dapat memberi nasihat begini. Kalau Tuan memang mau menyampaikan rasa terimakasih kepada beliau atas kebaikan dan jerih-payah beliau, …bolehlah, nanti saya sampaikan kepada beliau…. Akan saya laporkan…. Nanti saya dapat mengusulkan kepada beliau.”
“Terimakasih, Tuan!” (Istirahat panjang).
“Terimakasih…. Beliau akan mempertimbangkan. Cuma jangan tiga ratus…. Jangan Tuan coba-coba dengan uang kecil itu…. Buat beliau, itu nol, tak ada artinya…. Tuan sediakan untuk beliau seribu….”
“Dua ribu!” kata seseorang yang ada di sebelah sana pintu.
Layar turun. Dan tak seorang pun punya persangkaan buruk.
Archive Page 2
Woman in charge
Writen as a final task on English II subject
under the theme of La Donna :
~- Career Woman in Marriage -~
Do you see marriage coming at you with the same anticipation like
you usually reserve for a final test? Bravo! But for you guys, if you
are who grumpy about either marrying a career woman or not your
challenge is to reconsider about the essence of a good marriage. In
fact, not every woman with career has to face divorce as not every man
who married non-career woman are happier. Career woman can also have a
stable marriage. So how well career and marriage mix?
There are many stereotypes for career woman. They are more likely to
get divorced, unhappy if they make more money than their couple, and
less likely to have children. And if they do have kids, they are more
likely to be unhappy about it for blocking their career path or simply
have depressed causing. Most of these theories are reasonable and
generally well-researched. But the reasons for women to have a career
make a wider point of view for how a stable marriage can be made.
For some women it is quite hard to choose between have a career or
not. There are women who relieved their shining career to take care
their husband and children – if there is no financial problem. In the
other side, some women have to work despite of their willingness to
stay at home playing with children and waiting for husband. Those are
continual dilemmas because career is not always for economic reasons
but also related to woman self-actualization and socialize-with-other
necessity.
Rocky marriage which ends in divorce is the prime myth for career
women. It seems that career woman have a higher rate of divorce because
of they can. While woman who are financially dependent on their husband
do not have the choice to divorce until they become financially viable.
Those basic ideas are sound. But look closely to the women with healthy
careers. They remain married because of satisfaction with the state of
their relationship rather than dependency. Since marriage is a solemn
and yet a simple contract, it means that career women are able to keep
their happy marriage as long as they play their part in their
respective fields well. Besides, modern marriage is a two-way street.
Men should own up to their responsibilities too. Not only fulfilling
family’s basic needs but also ready for developing his wife potencies.
Another reason why women should have career is because the career
itself may gives a lot of knowledge which will improve mother’s quality
and brighter insight to educate their children. Since this world is the
place where our kids will belong, it’s become one of women duty to
introduce what on earth is going on as far as they could. Mixing career
with marriage means keeping it connected by giving good influence one
to another. Simply said a family also takes a role for woman’s career
as they need a harmonic family to support it.
As you ponder these reasons, know that there is no right or wrong.
You have to accept quirks as part of the give-and-take process. It’s a
matter of responsibility and acceptance of the difference on how each
has chosen to live his/her life. And for you gals, try looking inside
yourselves and prepare for both of your family and career futures. ***
PS : i still mind for
the paragraphs that ain’t in good coherence enough as a narative essay,
unwell structured, and met failure in emphasizing the thesis statement
briefly. But when ‘a stop’ was compulsory, it was a mighty good feeling
^___^ Yeah!
2004
1. Implementasi Aqidah Dalam Gerakan ( Takhqiqu Ma’na Syahadatain )
2. Tahap-tahap Penegakan Khilafah ( Tinjauan Shirah Nabawiyah )
3. Syakhsiyah Daiyah (Kepribadian Da’i)
4. Sejarah, Ideologi dan Strategi Gerakan Mahasiswa di Indonesia : Sosialis, Komunis, Nasionalis, Islam ( HMI, KAMMI)
5. s.d.a (PMII, GMNI, FPPI, LMND, dll )
6. Menegakkan Kembali Peradaban Islam
7. Rekayasa Sosial
8. Kepemimpinan Pemuda Dalam Islam
9. Komitmen Muslim Dalam Harakah
=====================================
2006
1. Membedah Fiqh Taghyir Ikhwanul Muslimin, Tsawabit wal Mutaghayyirat
2. Gerakan Da’wah, Dari Kultural ke Struktural, Studi Jam’iyyah NU dan Muhammadiyah
3. Civil Society, Menggagas Format Indonesia Masa Depan
4. Revitalisasi posisi dan peran militer di Indonesia serta dampak sosial
5. Rekayasa Sosial, Konteks Kenegaraan dan Keummatan
6. Kekhalifahan, Studi Mengenai Negara dalam Perspektif Islam
7. Analisa Kritis Gerakan Demokrasi di Negeri-negeri Muslim
8. Orientasi Gerakan KAMMI, Menuju Format Gerakan Masa Depan
=====================================
2007
1. konsep ummah / masyarakat islami
2. iqamatuddin (penegakkan agama) perspektif sirah : studi analisis fase makiyah dan madaniyah
3. studi ikhwanul muslimin dalam strategi dakwah dan politik iqamatuddin
4. problematika indonesia pasca reformasi –> kammi dan ormas pemuda lain
5. studi perilaku masyarakat dalam politik, ekonomi, budaya di indonesia dan daerah (aspek sosiologis)
6. rekayasa sosial
7. peran intelektual profetik dalam perubahan indonesia
8. tafsir paradigma gerakan kammi
9. kammi dan pemberantasan korupsi untuk masa depan jabar –> kammi, kpk, dan lsm
=====================================
2008
1. konsep ummah / masyarakat islami
2. iqamatuddin (penegakkan agama) perspektif sirah : studi analisis fase makiyah dan madaniyah
3. studi ikhwanul muslimin dalam strategi dakwah dan politik iqamatuddin
4. problematika indonesia pasca reformasi
5. studi perilaku masyarakat dalam politik, ekonomi, budaya di indonesia dan daerah (aspek sosiologis)
6. rekayasa sosial
7. peran intelektual profetik dalam perubahan indonesia
8. tafsir paradigma gerakan kammi
9. sinergitas civil society
10. kondisi terkini kota Bandung
11. kammi dan pemberantasan korupsi untuk masa depan Jawa Barat
====================================
TOR materi (softcopy) & FGD insya Allah Karina selesaikan tanggal 27 Juni 08 directly to: kammda_bandung@yahoo.co.id
TOR makalah silahkan menghubungi ka.kaderisasi.
CP pemateri silahkan menghubungi ketua OC atau koor.acara DM2
Jazakumullah khairan katsiran ^__^